All posts tagged Galau

Hidup Memang Penuh Tanda Tanya

Categories: Tulisan
Comments: No
Hidup Memang Penuh Tanda Tanya

Apa kabar diriku?

Hari ini aku ingin bertanya tentang aku.

Aku bertanya pada diriku, tentang apa yang telah aku lakukan, apa yang akan kulakukan dan apa yang belum kulakukan. Maka aku akan mengerti betapa tidak sederhana urusan seorang diriku.

Bila hari ini aku bertanya tentang apa yang telah kulakukan, aku akan mendapati ternyata keburukan ku lebih banyak daripada kebaikan ku. Read more

Pondok Pesantren Bukanlah Tukang Sulap

Categories: Tulisan
Comments: No
wizard

Seringkali muncul persepsi bahwa kalau anak dimasukkan ke pesantren, ikut tinggal dan belajar beberapa tahun didalamnya, mereka bisa jadi anak pandai dan sholeh setelah lulus dari pesantren.

Merupakan hal yang lumrah kalau orangtua menyekolahkan anaknya ke pesantren dengan harapan  seperti yang sudah saya sebutkan diatas tadi. Read more

Terlalu Banyak Tanya… Pentingkah???

Categories: Tulisan
Comments: No
question-mark

“Kita sebagai Umat Islam harus peka dan kritis terhadap segala gejala berkembang” Ucap ustad berapi-api pada suatu pengajian
“Indikasi peka dan kritis itu apa sih, Tad?” Tanya si Jamal
“Ragu” Jawab si Ustad
“Indikasi yang lainnya?” Tanya si Jamal
“Harus banyak bertanya” Jawab Ustad
“Bertanya tentang apa, Tad?” Tanya Si Jamal
“Tentang apa saja juga boleh” Jawab si Ustad
“Pertanyaan halal-haram juga bisa, Tad?” Tanya si Jamal
“Boleh” Jawab si Ustad
“Tentang kemaksiatan juga bisa, Tad?” Tanya si Jamal
“Bisa” Jawab Ustad
“Tentang soal pribadi juga boleh, Tad?” Tanya si Jamal
“Boleh, Mal” Jawab Si Ustad
“Hal Umum?” Tanya si Jamal
“Sangat boleh, Mal” Jawab si Ustad
“Tentang pahala dan dosa?” Tanya si Jamal
“mmbolehh…, Mal” Jawab Ustad terengah-engah
“Duuh Jamal, kamu banyak tanya kaya Bani Israil” Sambung Ustad
“Ustad bilang kita harus banyak bertanya, bukan begitu?” Pungkas si Jamal

Seberapa Pentingkah Terlalu Banyak Tanya itu??? Read more

Berbicara dengan hati

Categories: Tulisan
Comments: No

Saya masih ingat sekali guru saya Ustadzah Nihayah Hidayatullah Zarkasyi dua tahun yang lalu pernah menasehati saya seperti ini:

Dalam berbicara kepada orang lain, yang terpenting bukan sebagus dan sebanyak apa kata-kata yang sudah kita nasehatkan, tapi sebanyak apa endapan yang bisa masuk kedalam hati mereka setelah kita berbicara.

Kalau dalam memberi nasehat kepada orang lain kita hanya menggunakan ‘kepala dan lisan’, yang sering kali terjadi kata-kata itu sebatas lewat saja, hanya sekedar masuk dan keluar lagi.

Maka gunakan hati ketika berbicara, karena ketika kita berbicara dengan hati, orang lainpun akan mendengarkannya dengan hati, bukan hanya dengan telinga.

Allâhu a`lamu

4 hal yang harus kita hadapi

Categories: Pelajaran
Comments: No

Dalam hidup ini, kita dapat merangkum berbagai situasi dalam menghadapi sesama kita menjadi 4 hal :

  • Jika kita menghadapi orang yang lebih pintar dari kita. Maka itu adalah saat di mana kita menimba ilmu darinya.
  • Jika kita menghadapi orang yang sama pintarnya dengan kita. Maka itu adalah saat dimana kita saling bertukar pikiran dengannya.
  • Jika kita menghadapi orang yang lebih bodoh dari kita. Maka itu adalah saat dimana kita memberikan ilmu kita kepadanya.
  • Dan jika kita menghadapi orang bodoh namun banyak bicaranya. Maka itu adalah saat bagi kita untuk diam.

تَرْكُ الجَوَابِ عَلىَ الجَاهِلِ جَوَابٌ

Walaahu A’lam Bisshawaab….