Feb 11
5G : Lentera di Ujung Kampung

Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan pelanjut generasi ke empat dalam jagat seluler (4G). Ini tentang soko guru peradaban, soal-soal yang berkelindan dengan jagat pendidikan, Anda penasaran? Berikut saya kenalkan 5G itu : Gontor, Gantar, Gentur, Gantong, dan Gintung.

Gontor : Inspirator pesantren modern di Indonesia, usianya saat ini 90 tahun. Pesantren cabangnya tersebar di berbagai pelosok negeri. Belum termasuk ratusan pesantren yang didirikan oleh alumninya. Kampung kecil ini menjadi tempat persemaian generasi muda yang diharapkan dapat menyalakan lentera ilmu untuk kemajuan bangsa.

Gantar : kampung kecil di pedalaman Indramayu, Jawa Barat. Sawah dan tanah kering di kampung ini berubah menjadi bangunan beton yang megah, penggah, mewah, dan gemilap dengan infrastruktur berstandar internasional. Ciri metropolitanisme itu berawal dari berdirinya sebuah pesantren bernama: Ma' had Al-Zaytun. Terlepas dengan pandangan peyoratif tentang pesantren ini. Dengan kekhasan dan karakternya, Gantar berupaya mengobarkan kembali api peradaban Islam.

Gentur : Kampung kecil di kecamatan Warung Kondang, Cianjur, Jawa Barat. Di kampung ini berdiri sebuah pesantren sejak zaman kolonial. Pendirinya Syekh Ahmad Syatibi al-Qonturi yang dikenal dengan Mama Gentur. Beliau adalah maha guru para ulama tatar Sunda yang menghasilkan para ulama ahli tasawuf, tarekat, dan para kyai seperti Mama Sempur, Syekh Yusuf, Syekh Abdullah Nuh atau yang lebih dikenal dengan Aang Nuh.

Gentur menjadi pemelihara khazanah ilmu dan tradisionalisme Islam. Sampai saat ini di Gentur benda- benda seperti tv, radio, pengeras suara, dan handphone barang haram yang tidak boleh ada. Gentur punya cara sendiri menyalakan lentera peradabannya.

Gantong: Tak perlu saya jelaskan panjang lebar. Nama kampung ini terangkat oleh Andrea Hirata lewat novelnya, yang sudah diterjemahkan dalam 34 bahasa asing dan diterbitkan lebih dari 130 negara. Gantong bukan pesantren, tapi ruh dan falsafah pendidikan ada di sini. Gantong seakan menegaskan sukses belajar dan mengajar akan terwujud manakala guru mencintai profesinya dan ikhlas mendidik anak muridnya.

Gintung : Kampung terpencil di ujung Tangerang, di bantaran sungai Cidurian yang menjadi sempadan wilayah Serang. Di kampung ini ribuan santri belajar yang datang dari berbagai pelosok negeri. Pesantren itu bernama Daar el Qolam, yang lahir dari rahim Gontor pada tahun 1968, mungkin salah satu pesantren alumni Gontor yang paling dinamis dan kreatif. Awal berdiri fasilitas dan infrastrukturnya mirip Gantong. Ruang belajarnya tanpa pintu, tanpa jendela yang tingginya tanpa keramik . Sampai akhirnya kesungguhan, kemandirian, dan kerja keras membawa fasilitasnya mendekati Gantar. Santri-santrinya ditempa untuk belajar menunda kenikmatan sesaat. Tanpa handphone, tv, dan radio meski tidak mengharamkannya seperti Gentur.

Nama-nama dalam akronim 5G itu unik, bukan hanya estetik dalam rima aliterasi, asonansi, atau disonansinya. Tapi juga gerak dan vitalitasnya yang menegaskan bahwa ' school is not place, school is a concept. Sungguh, Maha Benar Allah dengan firmannya: : "Adapun buih yang tak ada harganya akan segera hilang tanpa bekas, sedangkan yang bermanfaat untuk manusia akan tetap menghujam di bumi" (QS: al-Ra'd:17)

Oleh : al-Ustadz Saeful Bahri, M. Sc.

Jan 20
49 Tahun Telah Berlalu : Refleksi Milad Daar el-Qolam

Milad 49.jpg

2017 memberi makna tersendiri dalam perjalanan sejarah Daar el-Qolam. Bukan hanya usianya yang akan beranjak setengah abad, tapi juga angka-angka yang bersemayam di balik perjalanan itu.

Pertama, pesantren ini telah ditinggalkan oleh penggagasnya, H. Qosod Mansyur 40 tahun yang lalu (wafat 1977). Beliaulah yang bertungkus lumus menyiapkan infratsruktur dan perangkat keras pesantren lainnya, sampai suatu kisah menceritakan tubuhnya memar tertimpa reruntuhan batu dan kayu bangunan.

Kedua, pesantren telah ditinggalkan 20 tahun silam oleh sang maestro, Kiai Rifa'i Arief (wafat 1997). Beliau bagai pemimpin sebuah orkestra yang mengatur bagaimana seharusnya irama pesantren didendangkan, kapan gendang harus ditabuh, kapan senandung seruling harus dimainkan. Sehingga rentak kaki para penari dapat seiring dan seirama. 30 tahun beliau membangun peradaban di sudut-sudut kampung, membelah gunung, membabat ilalang, sampai tepian laut di ujung Labuan. 4 karya besar yang ia tinggalkan menunjukan ketajaman visinya.

Ketiga, kepemimpinan Kiai Syahid, Kiai Adrian dan, Ustz Huawenah memasuki tahun ke 20. Kiai Syahid sebagai lokomotif utama juga seorang masinis penarik gerbong yang wawasan kepesantrenannya tidak diragukan lagi baik secara teoritis, praktis, bahkan nilai-nilai filosofisnya. Karena beliau tidak hanya sebagai santri pertama tapi juga saksi sejarah yang mengerti bagaimana awal pesantren ini berdiri.

Dan tahukah Anda berapa usia beliau saat mengemban amanat menggantikan Kiai Rifa'i pada 15 Juni 1997? Ya. 41 tahun. Beliau lahir 1956. Dapatkah dibayangkan oleh Anda yang sekarang berusia 40 atau 41 tahun, memimpin pesantren dan mlelanjutkan karya besar Kiai Rifa'i lainnya dengan beragam kompleksitas dan kerumitannya.

Sedangkan Kiai Adrian yang ketika ayahanda tercintanya wafat bersamaan dengan hari ulang tahunnya yang ke 25 (lahir 15 Juni 1973). Dapat dibayangkan dalam usia muda itu beliau sudah menampuk amanat yang cukup berat.

Sekarang Kiai Syahid memasuki usia 61 tahun, dan Kiai Adrian berusia 44 tahun. Semoga Allah memberikan kepada keduanya kesehatan dan umur panjang. 

Sosok yang tak kalah perannya dalam sejarah Daar el Qolam, Ustz Huwaenah. Di usia 63 tahun passion dan dedikasinya tetap stabil. Beliau mengajar di 4 darqo bahkan sampai ke La Tansa. Malu rasanya diri ini jika membandingkan dengan loyalitas beliau. Semoga Allah memberinya kesehatan dan umur panjang.

Daar el-Qolam kini menjelma menjadi pesantren terbesar di Banten, dengan anak cucunya yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera. Dan Anda sebagai guru, santri, dan alumni menjadi bagian kebesaran itu. Nama Anda turut besar karena pesantren ini besar, nama Anda pun turut harum seharum nama Daar el Qolam.

Orang tua dan guru-guru kita seperti yang tersebut di atas telah menanam benih-benih yang sekarang kita nikmati buahnya. Sepantasnya kita memelihara dan menanam benih-benih baru supaya dapat dinikmati oleh generasi setelah kita.

Refleksi 49 tahun Daar el -Qolam hendaknya kita jadikan momentum untuk: bersyukur dengan segala kelebihan-kelebihanya; dan bersabar, dengan segala kekurangan-kekuranganya. Dengan sikap itu mudah-mudahan kita semua menjadi pribadi-pribadi yang arif dan bijaksana. Selamat ulang tahun Daar el-Qolam, barakallah fi umrik...God Bless You

Oleh : Saeful Bahri, M. Sc.

Agu 29
Jati Diri Santri itu, Ya Memang Mendunia

Cukup banyak sudah analisa dan pemikiran yang berkesimpulan bahwa santri adalah pemilik sah pemegang amanat kepemimpinan bangsa-dunia ini. Tidak sulit menjelaskan kesimpulan di atas.

Namun tentu saja, sebelum saya membahas prospek kiprah santri yang mendunia itu, terlebih dahulu saya akan mengkaji kiprah dan peran santri secara nasional dalam lingkup keindonesiaan. Berbagai fakta yang berkaitan dengan kedirian dan kompetensi seorang santri, baik secara historis maupun kemampuan-kemampuannya, bisa kita tunjukkan untuk mendukung kesimpulan di atas. Pertama, santri, karena terlahir dari sekelompok masyarakat indigenous Islam-Indonesia, maka santri lah yang paling mengetahui dan menghayati kebatinan bangsa Indonesia. Karena itu, hal-hal yang berkaitan dengan psikologis, sosiologis, dan antropologis kemasyarakatan, santri telah terlebih dahulu menguasainya. Kedua, karena gemblengan tentang nilai-nilai agama dan ketuhanan yang cukup intensif, santri memiliki etos kerja dan tanggung jawab yang sangat tinggi. Menurut sosiolog Max Weber, etos kerja dan tanggung jawab santri yang luar biasa itu karena santri memiliki apa yang disebut Weber sebagai inner worldly asceticism (kesalehan dunia dalam diri). Karakter itulah yang membuat santri bekerja dengan maksimal meski tidak adanya pengawasan. Santri akan tetap jujur meski tak seorang pun mengawasinya, karena dengan karakter kesalehan dunia dalam dirinya itu, santri yakin betul bahwa Tuhan Omni-Present anytime, anywhere. Ketiga, adanya ajaran Islam yang mewajibkan penganutnya untuk terus belajar dan menuntut ilmu, “meski pun harus ke negeri Tiongkok”, maka kultur intelektualisme santri menjadi sangat terbuka, egaliter, demokratis, dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keilmuan dari mana pun berasal. “Dari bejana apapun hikmah itu kamu temukan, santri wajib mengambilnya”, begitu kira-kira sabda Rasul Agung.

Nah, dengan berbagai keunggulan santri tersebut, ditambah saat ini mulai banyak bermunculan lembaga-lembaga pendidikan Islam dan pondok pesantren yang secara baik memfasilitasi pengembangan kompetensi para santri, maka semua keunggulan tersebut di atas melesat bagaikan roket yang dalam waktu tidak lama dari satu dasawarsa di awal abad 21 ini akan menjelma menjadi kekuatan alternatif intelektual dan kepemimpinan dunia. Booming intelektual santri di Indonesia pada tahun 1980-an, kemudian booming para doktor luar negeri dari kalangan santri yang mulai fenomenal pada pertengahan tahun 1990-an, membuat santri bukan hanya berpandangan outward looking, melainkan kompetensi mereka juga telah merambah ke berbagai intelektual sosial kemasyarakatan. Mereka tidak hanya menjadi ustâdz, guru, dosen, dai, kiai, melainkan juga mereka menjadi manajer di berbagai perusahaan, direktur, politisi, kepala daerah, menteri, dan posisi-posisi strategis lainnya.

Santri yang muncul dalam kepemimpinan dan intelektualisme itu terlihat secara integrated tiga hal penting dalam dirinya. Pertama, aspek “what” dari peran yang mereka miliki sudah mulai cukup. Karena itu, banyak di antara santri yang tampil secara profesional. Kedua, aspek “how”, yang menjadi job para manajer dan direktur. Dan banyak sudah santri yang menduduki posisi ini. Ketiga, aspek “why” yang menyangkut nilai, belief, sehingga dari “tahu” (“what”) dan “bisa” (“how”), santri juga “mau” (“why”) melakukannya.

Santri yang semacam itulah yang dalam al-Quran disebut sebagai “hamba-hamba-Nya yang Ṣâlihûn”, yang bumi ini diwariskan kepadanya, jika kehidupan umat manusia di dalamnya ingin harmonis, adil, sejahtera, sehingga para penghuninya merasakan kebahagiaan.

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ ﴿١٠٥

[Muhammad Wahyuni Nafis—Direktur Sekolah Madania: Ketua Nucholish Madjid Society; Anggota Advisory Board Pesantren Daar el-Qolam]

Agu 29
Drs. K.H. Ahmad Syahiduddin: Inovasi itu Sunnatullâh

Sejak awal berdirinya pesantren dimaksudkan sebagai lembaga pendidikan yang berfokus pada transfer ilmu pengetahuan dan pendidikan nilai (living values education). Keduanya berjalan bersamaan. Tekanan yang kuat terhadap nilai-nilai pesantren (values) sering kali menjadikan pesantren dianggap sebagai lembaga yang konservatif dan tidak berkemajuan. Apalagi jika dihadapkan dengan kehidupan modern di mana tuntutan inovasi semakin tinggi, pesantren sering kali terkalahkan dibandingkan dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut, Madrasatul Muallimien al-Islamiyah (MMI) Pondok Pesantren Daar el-Qolam sudah melakukan berbagai inovasi kreatif guna menyikapi berbagai tantangan zaman yang senantiasa berubah.

Berikut ini adalah hasil wawancara khusus dengan Drs. K.H. Ahmad Syahiduddin, Pengasuh Pondok Pesantren Daar el-Qolam, di saung kolam lele Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, tempatnya bergiat dengan masyarakat di sekitar pesantren.

Nabi Muhammad saja menjadi manusia pilihan, utusan Allah yang diberikan kepadanya wahyu—in huwa waḥyun yûḥâ—akan tetapi, dalam sunnah kehidupannya berhubungan dengan manusia dan berhubungan pula dengan alam semesta. Rasulullah berhubungan dengan mereka meski mereka non-Muslim. Kita dapat mudah menjumpainya dalam al-sîrah al-nabawiyah. Sebenarnya konsep yang sempurna ya konsep Islam, mana kala konsep yang sempurna itu dilaksanakan dengan utuh dan kâffah. Nah, kebanyakan dari kita memilih-milih dan memilah-milah: yang enak dipilih dan yang tidak enak dijauhi; yang menguntungkan dipilih sedangkan yang tidak menguntungkan dijauhi. Jadi, menurut saya, hidup ini sebetulnya sangat sederhana, kita tinggal taat saja dengan Allah dan mengikuti peraturan Allah yang banyak termaktub di dalam al-Qur’an dan al-Hadîts. Banyak permasalahan yang timbul belakangan ini sebenarnya bermula dari ketidaktaatan maḵlûq pada Sang Ḵâliq. Manusia yang menjadi ḵalîfah, ia tidak akan pernah melawan sunnatullah. Contoh yang paling mudah meski agak sedikit melenceng adalah bagaimana para Kiai dahulu mencangkul, bekerja dan bercocok tanam sendiri karena memang sunnatullâh yang diajarkan demikian adanya—fa Inna Nabi Dâwûd ya’kulu wa yaṡrabu min kasbi yadihî. Sampai-sampai teori tersebut dipakai oleh Joko Widodo, sehingga menjadi Presiden Republik Indonesia. Sebetulnya spirit demikian itulah spirit para kiai zaman dahulu kala yang berpegang teguh pada sunnatullâh.

Sunnatullâh! Sebab orang hidup itu mesti bergerak dan bisa kita lihat ketika anak lahir kemudian detak jantungnya bergerak yang menandakan kehidupan. Itulah sunnatullâh. Nah, kalau tidak bergerak, artinya kan tidak hidup lagi. Pengertian hidup itu luas, karena hidup itu bukan hanya karena ia memiliki nyawa, tetapi juga adalah hidup yang memiliki nilai. Karena Allah menciptakan dunia dan isinya dengan nilai, tidak dengan main-main. Untuk mengejar nilai ini tentu harus beradaptasi atau melakukan inovasi-inovasi. Dahulu, kalau kita menanam padi, misalnya, kita menanam padi, enam bulan baru bisa kita panen. Nah, sekarang, baru tiga bulan sudah bisa panen. Dahulu, pohon durian baru setelah 10 tahun dapat berbuah, tapi kalau sekarang ada yang sudah tiga tahun sudah berbuah. Ini kan bagian dari gerak untuk mencapai kehidupan yang sempurna—kehidupan yang diajarkan oleh Allah SWT bahkan Allah sendiri taat dengan aturan-Nya, padahal Allah sendiri Maha Segala-galanya. Allah sendiri Yang Membuat Aturan dan aturan-aturan itulah yang disebut dengan sunnatullâh. Kalau tidak ada aturan, segalanya bisa rusak; misalkan matahari kalau berhenti meski sebentar pasti akan menjadi masalah karena planet-planet yang mengitarinya akan bertabrakan. Begitu pun dengan lembaga, jika ingin maju yang harus bergerak, tidak boleh stagnan. Banyak orang yang melihat hanya “mâ qaddamat”, tetapi tidak melihat pada “li ḡadin”. Padahal, apa yang terjadi pada masa lalu harusnya dijadikan pelajaran untuk melangkah di masa depan. Itu artinya kita harus bergerak maju.

Sebetulnya, tidak ada yang saling mengalahkan atau saling terkalahkan kalau itu semua berjalan sesuai dengan sunnatullâh. Waktu salat Ẓuhur, misalnya, dari seribu tahun yang lalu tidak pernah ada perubahan. Ada falsafah “al-muḥâfaẓah ʿalâ-l-qadîmi-s-ṣâlihi, wa-l-aḵḏ bi-l-jadîdi-l-aṣlaḥ”, yang bermakna ketika ada pembaharuan tetapi lebih buruk dari yang sudah ada itu namanya bukan “li ḡadin”, tapi namanya sebuah kemunduran. Itu juga yang diajarkan oleh Rasulullah SAW bahwa hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin.

Ada dua alasan yang melatarbelakanginya—yang pertama adalah pengelolaan atau manajemen, di mana ketika lembaga tersebut semakin besar maka harus dipecah, karena itu lahirlah Daar el-Qolam 2. Ketika pemecahan itu tidak memiliki nilai, maka tidak bermakna, karena itu pemecahan harus ada nilai perkembangannya. Yang kedua adalah untuk peningkatan kualitas. Pondok pesantren itu lembaga pendidikan yang isinya adalah manusia, di mana manusia secara natural pasti berkembang. Dulu disebut zaman batu. Ada zaman kegelapan. Ada zaman keemasan. Ada zaman revolusi industri. Di Indonesia saja ada perkembangan, dari mulai masa penjajahan, pra-kemerdekaan, kemerdekaan, era pembangunan, sampai era reformasi dan itu akan terus berjalan. Nah kalau perkembangan itu semakin baik, maka perkembangan itu benar sesuai dengan sunnatullâh. Akan tetapi, kalau perkembangannya hanya pada kuantitasnya yang banyak itu sebenarnya suatu kemunduran. Yang maju itu mana kala kualitas dan kuantitas berjalan beriringan. Coba lihat para pebisnis dan developer perumahan itu, mereka membuat berbagai macam cluster yang bermacam-macam di mana masing-masing punya kelebihan tersendiri. Jadi, di sini ada dua persoalan yaitu manajemen dan nilai peningkatan kualitas.

Benar! Masing-masing Pesantren Daar el-Qolam harus memiliki kelebihan. Itu juga alasan mengapa Daar el-Qolam 1 tidak dikembangkan sebagaimana yang lainnya, karena memang itu sejarahnya. Islam misalnya dari awal ya namanya Islam, tidak bisa ada Islam Nusantara atau Islam Jawa. Berbeda halnya dengan Daar el-Qolam 2 yang memang memiliki kelebihan dari sisi ilmu agama dan umumnya karena diisi oleh anak-anak pilihan. Nah, Daar el-Qolam 3, karena merupakan program ekstensi, di pesantren hanya tiga tahun, maka dibutuhkan manajemen dan sistem bagaimana transfer ilmu pengetahuan yang baik sehingga nilainya tetap sama dengan waktu yang lebih pendek. Maka, tambahan motto Daar el-Qolam 3 yaitu “min ḥusni islâmi al-mar’i, tarkuhû mâ lâ yaʿnîhî”. Jadi anak-anak santri di Daar el-Qolam 3 tidak bisa santai berleha-leha, karena durasi belajarnya hanya tiga tahun. Apa-apa yang tidak bermanfaat ya ditinggalkan. Berbeda dengan Daar el-Qolam 2 yang memiliki motto “man arâda ad-dunyâ faʿalayhî bi al-ʿilmi, wa man arâda al-âkhirah fa ʿalayhi bi al-ʿilmi; wa man arâdahumâ fa ʿalayhi bi al-ʿilmi.”

Jadi, tidak ada itu yang namanya dikotomi antara ilmu pengetahuan dan agama, sebab dua-duanya bersumber dari Islam. Lihat bagaimana al-Qur’an berbicara tentang alam? Jadi kemunduran kita adalah ketika kita memisahkan kedua ilmu itu, seakan-akan dunia itu bukan menjadi bagian dari kehidupan. Harus diingat, bahwa dunia ini ya “mazraʿah al-âḵirah”—ladangnya akhirat. Lantas, bagaimana ingin hidup baik di akhirat, saat hidup di dunianya saja tidak baik.

Karena memang pilihan santri yang masuk di dalamnya berasal dari mereka yang memiliki ilmu pengetahuan agama yang lebih, maka pesantren tersebut diperuntukkan bagi calon-calon kiai yang menguasai ilmu agama atau tafaqquh fî ad-dîn secara lebih. Berbeda dengan Daar el-Qolam 2 yang memang dimaksudkan untuk menghasilkan cendekiawan-cendekiawan Muslim. Itu idealnya. Nah kalau saat ini belum terlihat, ya, wajar karena itu baru saja dimulai.

Kalau Daar el-Qolam 1, ya namanya tetap Pondok Pesantren Daar el-Qolam dengan al-Luḡah al-‘Arabiyah wa al-Luḡah al-Injiliziyah tâjâ al-Maʿhad. Berbeda dengan Daar el-Qolam 2 yang memang dikenal dengan imtiyâziy-nya karena memang dihuni oleh santri yang memiliki maziyyah atau keistimewaan.

Adapun untuk Daar el-Qolam 3 memiliki nama yaitu Dza ʿIzza di mana suatu kemuliaan itu harus dicari dan diusahakan dalam waktu yang terbatas. Artinya, dalam waktu yang singkat mereka harus mengusahakan kemuliaan itu. Kalau Daar el-Qolam 4 bagian dari imtiyâziy juga tetapi fokusnya pada tafaqquh fî ad-dîn.

Sebenarnya program “Foundation” itu cita-cita al-marḥûm Pendiri MMI Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Drs. K.H. Ahmad Rifai Arief yang terpendam ketika mendapat kunjungan dari Malaysia sekitar tahun 1995. Banyak pembuktian ketika al-marḥûm itu memiliki cita-cita dan terwujud. Misalnya, Villa Lâ Ghafla di Cisarua itu juga merupakan cita-cita Kiai al-marḥûm 20 tahun yang lalu. Kiai itu tidak miskin ide, akan tetapi pada umumnya terkendala dana. Nah, kalau Daar el-Qolam seperti ini, al-ḥamdu lillâh, kita punya dana karena barakah. Dengan begitu, ide-ide Kiai Pendiri bisa dikembangkan, jadi dapat dimodifikasi dengan diberikan nilai tambah di dalamnya. Jadi, sebetulnya, bila Daar el-Qolam ini besar seperti sekarang, itu karena cita-cita Pendiri Pesantren. Kalau saya, ya hanya melanjutkannya saja. Dan baru yang setelah saya ya mengembangkan dan memelihara.

Program Foundation harus menjadi lembaga tersendiri dengan manajemen tersendiri, karena tidak akan sempurna kalau tidak buat manajemen sendiri, karena itu di al-Quran sendiri meski ayatnya sama tapi kan suratnya berbeda. Misalkan, di surah al-Fâtiḥah ada Bismillahirraḥmânirraḥîm, dan ada pula di surah an-Naml. Sehingga di Daar el-Qolam 3 sendiri ada program tiga tahun dan ada pula program CFS. Nanti juga ada asramanya khusus untuk anak-anak peserta didik CFS, baik putra maupun putri, walaupun ia berada di dalam satu kompleks yang sama dengan Daar el-Qolam 3. Untuk kehidupan sehari-harinya, mereka tetap berbaur supaya tetap terjadi transfer nilai. Walaupun ada ungkapan “sû’u al-ḵuluqi yuʿdî”, tapi ya bisa kan dibalik menjadi “ḥusnu al-ḵuluqi yuʿdî”. Jadi, tidak ada yang tidak mungkin.

Sehebat apapun sistem yang terpenting adalah manusianya. Jadi, The Man Behind The Gun. Kalau ia tidak bisa menggunakannya ya bisa menghancurkan. Jadi kalau kita kembali ke dasar, Nabi Muhammad itu bukan orang pintar karena lâ yaqra’ wa lâ yaktub. Logikanya begitu. Tapi cerdas karena kecerdasan itu melahirkan ilmu. Jadi yang terpenting apakah kecerdasan itu dipertajam apa tidak. Kecerdasan yang terkait erat dengan keimanan.

Artinya guru yang terpenting adalah guru yang bisa menyesuaikan dan senantiasa berupaya menjadi yang terbaik. Ada falsafah di Daar el-Qolam 3, “Berhenti belajar, berhentilah mengajar”. Ruh keikhlasan Ustadz jika bersatu dengan ruh keikhlasan santri maka akan menjadi sebuah kekuatan tersendiri. Ustadz menerangkan dengan penuh keikhlasan meskipun tidak cerdas maka itu lebih baik daripada anak cerdas yang tidak ikhlas mendengarkan gurunya mengajar. Maka, di MMI Daar el-Qolam ada pedoman at-ṭarîqatu ahammu min al-mâddati—metode lebih utama daripada materi—wa al-mudarrisu ahammu min at-ṭarîqati—dan seorang guru lebih utama daripada metode yang digunakan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa, rûh al-mudarris ahammu kulla ṡay’in—spirit guru itu lebih penting dari segalanya).

Apr 29
How To Be a Great Teacher???

Guru merupakan ujung tombak pendidikan sebab secara langsung berupanya mempengaruhi, membina dan mengembangkan peserta didik. Sebagai ujung tombak, guru dituntut untuk memiliki kemampuan dasar yang diperlukan sebagai pendidik. Berkualitas tidaknya proses pendidikan tergantung pada kreativitas dan inovasi yang dimiliki guru.

Untuk meningkatakan kualitas guru, Pondok Pesantren Daar el–Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza mengadakan pelatihan guru secara berkala, satu hari dalam satu minggu yang diisi oleh Trainer Profesional dibidangnya yaitu H. Ferdinal Lafendry dengan tema “How To Be A Great Teacher”.

Mengapa Perlu Pelatihan guru? 

Banyak guru yang monoton, terjebak dalam rutinitas, tidak menjiwai pekerjaan dan selalu mengeluh dengan pekerjaan sebagai guru.” Papar H. Ferdinal Lafendry Jumat (22/04).  Untuk menghindari hal itu Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza perlu meng-upgrade pengetahuan, wawasan, serta keterampilannya menuju pada pengembangan profesi yang diharapkan.

Beriring kesadaran dari masing-masing guru bidang Dirosah Islamiah dan guru bidang umum, pelatihan ini menjadi suatu wadah dan tempat untuk mengembangkan potensi akademiknya. Karena sesuai Multiple Intelligent Research (MIR) potensi peserta didik mempunyai 8 kecerdasan, diantaranya cerdas linguistik, intrapersonal, visual, musik, dsb. Oleh sebab itu training ini menjadi penting diikuti karena mundur majunya kualitas pendidikan ditunjang juga dengan kemampuan pendidiknya pula, dengan harapan pondok pesantren tidak hanya terjebak dengan rutinitas religius saja, akan tetapi mampu merespon modernisasi pendidikan secara global. (Tarmin Alamsyah)