Jan 20
49 Tahun Telah Berlalu : Refleksi Milad Daar el-Qolam

Milad 49.jpg

2017 memberi makna tersendiri dalam perjalanan sejarah Daar el-Qolam. Bukan hanya usianya yang akan beranjak setengah abad, tapi juga angka-angka yang bersemayam di balik perjalanan itu.

Pertama, pesantren ini telah ditinggalkan oleh penggagasnya, H. Qosod Mansyur 40 tahun yang lalu (wafat 1977). Beliaulah yang bertungkus lumus menyiapkan infratsruktur dan perangkat keras pesantren lainnya, sampai suatu kisah menceritakan tubuhnya memar tertimpa reruntuhan batu dan kayu bangunan.

Kedua, pesantren telah ditinggalkan 20 tahun silam oleh sang maestro, Kiai Rifa'i Arief (wafat 1997). Beliau bagai pemimpin sebuah orkestra yang mengatur bagaimana seharusnya irama pesantren didendangkan, kapan gendang harus ditabuh, kapan senandung seruling harus dimainkan. Sehingga rentak kaki para penari dapat seiring dan seirama. 30 tahun beliau membangun peradaban di sudut-sudut kampung, membelah gunung, membabat ilalang, sampai tepian laut di ujung Labuan. 4 karya besar yang ia tinggalkan menunjukan ketajaman visinya.

Ketiga, kepemimpinan Kiai Syahid, Kiai Adrian dan, Ustz Huawenah memasuki tahun ke 20. Kiai Syahid sebagai lokomotif utama juga seorang masinis penarik gerbong yang wawasan kepesantrenannya tidak diragukan lagi baik secara teoritis, praktis, bahkan nilai-nilai filosofisnya. Karena beliau tidak hanya sebagai santri pertama tapi juga saksi sejarah yang mengerti bagaimana awal pesantren ini berdiri.

Dan tahukah Anda berapa usia beliau saat mengemban amanat menggantikan Kiai Rifa'i pada 15 Juni 1997? Ya. 41 tahun. Beliau lahir 1956. Dapatkah dibayangkan oleh Anda yang sekarang berusia 40 atau 41 tahun, memimpin pesantren dan mlelanjutkan karya besar Kiai Rifa'i lainnya dengan beragam kompleksitas dan kerumitannya.

Sedangkan Kiai Adrian yang ketika ayahanda tercintanya wafat bersamaan dengan hari ulang tahunnya yang ke 25 (lahir 15 Juni 1973). Dapat dibayangkan dalam usia muda itu beliau sudah menampuk amanat yang cukup berat.

Sekarang Kiai Syahid memasuki usia 61 tahun, dan Kiai Adrian berusia 44 tahun. Semoga Allah memberikan kepada keduanya kesehatan dan umur panjang. 

Sosok yang tak kalah perannya dalam sejarah Daar el Qolam, Ustz Huwaenah. Di usia 63 tahun passion dan dedikasinya tetap stabil. Beliau mengajar di 4 darqo bahkan sampai ke La Tansa. Malu rasanya diri ini jika membandingkan dengan loyalitas beliau. Semoga Allah memberinya kesehatan dan umur panjang.

Daar el-Qolam kini menjelma menjadi pesantren terbesar di Banten, dengan anak cucunya yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera. Dan Anda sebagai guru, santri, dan alumni menjadi bagian kebesaran itu. Nama Anda turut besar karena pesantren ini besar, nama Anda pun turut harum seharum nama Daar el Qolam.

Orang tua dan guru-guru kita seperti yang tersebut di atas telah menanam benih-benih yang sekarang kita nikmati buahnya. Sepantasnya kita memelihara dan menanam benih-benih baru supaya dapat dinikmati oleh generasi setelah kita.

Refleksi 49 tahun Daar el -Qolam hendaknya kita jadikan momentum untuk: bersyukur dengan segala kelebihan-kelebihanya; dan bersabar, dengan segala kekurangan-kekuranganya. Dengan sikap itu mudah-mudahan kita semua menjadi pribadi-pribadi yang arif dan bijaksana. Selamat ulang tahun Daar el-Qolam, barakallah fi umrik...God Bless You

Oleh : Saeful Bahri, M. Sc.

Comments

There are no comments for this post.