Agu 29
Drs. K.H. Ahmad Syahiduddin: Inovasi itu Sunnatullâh

Sejak awal berdirinya pesantren dimaksudkan sebagai lembaga pendidikan yang berfokus pada transfer ilmu pengetahuan dan pendidikan nilai (living values education). Keduanya berjalan bersamaan. Tekanan yang kuat terhadap nilai-nilai pesantren (values) sering kali menjadikan pesantren dianggap sebagai lembaga yang konservatif dan tidak berkemajuan. Apalagi jika dihadapkan dengan kehidupan modern di mana tuntutan inovasi semakin tinggi, pesantren sering kali terkalahkan dibandingkan dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut, Madrasatul Muallimien al-Islamiyah (MMI) Pondok Pesantren Daar el-Qolam sudah melakukan berbagai inovasi kreatif guna menyikapi berbagai tantangan zaman yang senantiasa berubah.

Berikut ini adalah hasil wawancara khusus dengan Drs. K.H. Ahmad Syahiduddin, Pengasuh Pondok Pesantren Daar el-Qolam, di saung kolam lele Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, tempatnya bergiat dengan masyarakat di sekitar pesantren.

Nabi Muhammad saja menjadi manusia pilihan, utusan Allah yang diberikan kepadanya wahyu—in huwa waḥyun yûḥâ—akan tetapi, dalam sunnah kehidupannya berhubungan dengan manusia dan berhubungan pula dengan alam semesta. Rasulullah berhubungan dengan mereka meski mereka non-Muslim. Kita dapat mudah menjumpainya dalam al-sîrah al-nabawiyah. Sebenarnya konsep yang sempurna ya konsep Islam, mana kala konsep yang sempurna itu dilaksanakan dengan utuh dan kâffah. Nah, kebanyakan dari kita memilih-milih dan memilah-milah: yang enak dipilih dan yang tidak enak dijauhi; yang menguntungkan dipilih sedangkan yang tidak menguntungkan dijauhi. Jadi, menurut saya, hidup ini sebetulnya sangat sederhana, kita tinggal taat saja dengan Allah dan mengikuti peraturan Allah yang banyak termaktub di dalam al-Qur’an dan al-Hadîts. Banyak permasalahan yang timbul belakangan ini sebenarnya bermula dari ketidaktaatan maḵlûq pada Sang Ḵâliq. Manusia yang menjadi ḵalîfah, ia tidak akan pernah melawan sunnatullah. Contoh yang paling mudah meski agak sedikit melenceng adalah bagaimana para Kiai dahulu mencangkul, bekerja dan bercocok tanam sendiri karena memang sunnatullâh yang diajarkan demikian adanya—fa Inna Nabi Dâwûd ya’kulu wa yaṡrabu min kasbi yadihî. Sampai-sampai teori tersebut dipakai oleh Joko Widodo, sehingga menjadi Presiden Republik Indonesia. Sebetulnya spirit demikian itulah spirit para kiai zaman dahulu kala yang berpegang teguh pada sunnatullâh.

Sunnatullâh! Sebab orang hidup itu mesti bergerak dan bisa kita lihat ketika anak lahir kemudian detak jantungnya bergerak yang menandakan kehidupan. Itulah sunnatullâh. Nah, kalau tidak bergerak, artinya kan tidak hidup lagi. Pengertian hidup itu luas, karena hidup itu bukan hanya karena ia memiliki nyawa, tetapi juga adalah hidup yang memiliki nilai. Karena Allah menciptakan dunia dan isinya dengan nilai, tidak dengan main-main. Untuk mengejar nilai ini tentu harus beradaptasi atau melakukan inovasi-inovasi. Dahulu, kalau kita menanam padi, misalnya, kita menanam padi, enam bulan baru bisa kita panen. Nah, sekarang, baru tiga bulan sudah bisa panen. Dahulu, pohon durian baru setelah 10 tahun dapat berbuah, tapi kalau sekarang ada yang sudah tiga tahun sudah berbuah. Ini kan bagian dari gerak untuk mencapai kehidupan yang sempurna—kehidupan yang diajarkan oleh Allah SWT bahkan Allah sendiri taat dengan aturan-Nya, padahal Allah sendiri Maha Segala-galanya. Allah sendiri Yang Membuat Aturan dan aturan-aturan itulah yang disebut dengan sunnatullâh. Kalau tidak ada aturan, segalanya bisa rusak; misalkan matahari kalau berhenti meski sebentar pasti akan menjadi masalah karena planet-planet yang mengitarinya akan bertabrakan. Begitu pun dengan lembaga, jika ingin maju yang harus bergerak, tidak boleh stagnan. Banyak orang yang melihat hanya “mâ qaddamat”, tetapi tidak melihat pada “li ḡadin”. Padahal, apa yang terjadi pada masa lalu harusnya dijadikan pelajaran untuk melangkah di masa depan. Itu artinya kita harus bergerak maju.

Sebetulnya, tidak ada yang saling mengalahkan atau saling terkalahkan kalau itu semua berjalan sesuai dengan sunnatullâh. Waktu salat Ẓuhur, misalnya, dari seribu tahun yang lalu tidak pernah ada perubahan. Ada falsafah “al-muḥâfaẓah ʿalâ-l-qadîmi-s-ṣâlihi, wa-l-aḵḏ bi-l-jadîdi-l-aṣlaḥ”, yang bermakna ketika ada pembaharuan tetapi lebih buruk dari yang sudah ada itu namanya bukan “li ḡadin”, tapi namanya sebuah kemunduran. Itu juga yang diajarkan oleh Rasulullah SAW bahwa hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin.

Ada dua alasan yang melatarbelakanginya—yang pertama adalah pengelolaan atau manajemen, di mana ketika lembaga tersebut semakin besar maka harus dipecah, karena itu lahirlah Daar el-Qolam 2. Ketika pemecahan itu tidak memiliki nilai, maka tidak bermakna, karena itu pemecahan harus ada nilai perkembangannya. Yang kedua adalah untuk peningkatan kualitas. Pondok pesantren itu lembaga pendidikan yang isinya adalah manusia, di mana manusia secara natural pasti berkembang. Dulu disebut zaman batu. Ada zaman kegelapan. Ada zaman keemasan. Ada zaman revolusi industri. Di Indonesia saja ada perkembangan, dari mulai masa penjajahan, pra-kemerdekaan, kemerdekaan, era pembangunan, sampai era reformasi dan itu akan terus berjalan. Nah kalau perkembangan itu semakin baik, maka perkembangan itu benar sesuai dengan sunnatullâh. Akan tetapi, kalau perkembangannya hanya pada kuantitasnya yang banyak itu sebenarnya suatu kemunduran. Yang maju itu mana kala kualitas dan kuantitas berjalan beriringan. Coba lihat para pebisnis dan developer perumahan itu, mereka membuat berbagai macam cluster yang bermacam-macam di mana masing-masing punya kelebihan tersendiri. Jadi, di sini ada dua persoalan yaitu manajemen dan nilai peningkatan kualitas.

Benar! Masing-masing Pesantren Daar el-Qolam harus memiliki kelebihan. Itu juga alasan mengapa Daar el-Qolam 1 tidak dikembangkan sebagaimana yang lainnya, karena memang itu sejarahnya. Islam misalnya dari awal ya namanya Islam, tidak bisa ada Islam Nusantara atau Islam Jawa. Berbeda halnya dengan Daar el-Qolam 2 yang memang memiliki kelebihan dari sisi ilmu agama dan umumnya karena diisi oleh anak-anak pilihan. Nah, Daar el-Qolam 3, karena merupakan program ekstensi, di pesantren hanya tiga tahun, maka dibutuhkan manajemen dan sistem bagaimana transfer ilmu pengetahuan yang baik sehingga nilainya tetap sama dengan waktu yang lebih pendek. Maka, tambahan motto Daar el-Qolam 3 yaitu “min ḥusni islâmi al-mar’i, tarkuhû mâ lâ yaʿnîhî”. Jadi anak-anak santri di Daar el-Qolam 3 tidak bisa santai berleha-leha, karena durasi belajarnya hanya tiga tahun. Apa-apa yang tidak bermanfaat ya ditinggalkan. Berbeda dengan Daar el-Qolam 2 yang memiliki motto “man arâda ad-dunyâ faʿalayhî bi al-ʿilmi, wa man arâda al-âkhirah fa ʿalayhi bi al-ʿilmi; wa man arâdahumâ fa ʿalayhi bi al-ʿilmi.”

Jadi, tidak ada itu yang namanya dikotomi antara ilmu pengetahuan dan agama, sebab dua-duanya bersumber dari Islam. Lihat bagaimana al-Qur’an berbicara tentang alam? Jadi kemunduran kita adalah ketika kita memisahkan kedua ilmu itu, seakan-akan dunia itu bukan menjadi bagian dari kehidupan. Harus diingat, bahwa dunia ini ya “mazraʿah al-âḵirah”—ladangnya akhirat. Lantas, bagaimana ingin hidup baik di akhirat, saat hidup di dunianya saja tidak baik.

Karena memang pilihan santri yang masuk di dalamnya berasal dari mereka yang memiliki ilmu pengetahuan agama yang lebih, maka pesantren tersebut diperuntukkan bagi calon-calon kiai yang menguasai ilmu agama atau tafaqquh fî ad-dîn secara lebih. Berbeda dengan Daar el-Qolam 2 yang memang dimaksudkan untuk menghasilkan cendekiawan-cendekiawan Muslim. Itu idealnya. Nah kalau saat ini belum terlihat, ya, wajar karena itu baru saja dimulai.

Kalau Daar el-Qolam 1, ya namanya tetap Pondok Pesantren Daar el-Qolam dengan al-Luḡah al-‘Arabiyah wa al-Luḡah al-Injiliziyah tâjâ al-Maʿhad. Berbeda dengan Daar el-Qolam 2 yang memang dikenal dengan imtiyâziy-nya karena memang dihuni oleh santri yang memiliki maziyyah atau keistimewaan.

Adapun untuk Daar el-Qolam 3 memiliki nama yaitu Dza ʿIzza di mana suatu kemuliaan itu harus dicari dan diusahakan dalam waktu yang terbatas. Artinya, dalam waktu yang singkat mereka harus mengusahakan kemuliaan itu. Kalau Daar el-Qolam 4 bagian dari imtiyâziy juga tetapi fokusnya pada tafaqquh fî ad-dîn.

Sebenarnya program “Foundation” itu cita-cita al-marḥûm Pendiri MMI Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Drs. K.H. Ahmad Rifai Arief yang terpendam ketika mendapat kunjungan dari Malaysia sekitar tahun 1995. Banyak pembuktian ketika al-marḥûm itu memiliki cita-cita dan terwujud. Misalnya, Villa Lâ Ghafla di Cisarua itu juga merupakan cita-cita Kiai al-marḥûm 20 tahun yang lalu. Kiai itu tidak miskin ide, akan tetapi pada umumnya terkendala dana. Nah, kalau Daar el-Qolam seperti ini, al-ḥamdu lillâh, kita punya dana karena barakah. Dengan begitu, ide-ide Kiai Pendiri bisa dikembangkan, jadi dapat dimodifikasi dengan diberikan nilai tambah di dalamnya. Jadi, sebetulnya, bila Daar el-Qolam ini besar seperti sekarang, itu karena cita-cita Pendiri Pesantren. Kalau saya, ya hanya melanjutkannya saja. Dan baru yang setelah saya ya mengembangkan dan memelihara.

Program Foundation harus menjadi lembaga tersendiri dengan manajemen tersendiri, karena tidak akan sempurna kalau tidak buat manajemen sendiri, karena itu di al-Quran sendiri meski ayatnya sama tapi kan suratnya berbeda. Misalkan, di surah al-Fâtiḥah ada Bismillahirraḥmânirraḥîm, dan ada pula di surah an-Naml. Sehingga di Daar el-Qolam 3 sendiri ada program tiga tahun dan ada pula program CFS. Nanti juga ada asramanya khusus untuk anak-anak peserta didik CFS, baik putra maupun putri, walaupun ia berada di dalam satu kompleks yang sama dengan Daar el-Qolam 3. Untuk kehidupan sehari-harinya, mereka tetap berbaur supaya tetap terjadi transfer nilai. Walaupun ada ungkapan “sû’u al-ḵuluqi yuʿdî”, tapi ya bisa kan dibalik menjadi “ḥusnu al-ḵuluqi yuʿdî”. Jadi, tidak ada yang tidak mungkin.

Sehebat apapun sistem yang terpenting adalah manusianya. Jadi, The Man Behind The Gun. Kalau ia tidak bisa menggunakannya ya bisa menghancurkan. Jadi kalau kita kembali ke dasar, Nabi Muhammad itu bukan orang pintar karena lâ yaqra’ wa lâ yaktub. Logikanya begitu. Tapi cerdas karena kecerdasan itu melahirkan ilmu. Jadi yang terpenting apakah kecerdasan itu dipertajam apa tidak. Kecerdasan yang terkait erat dengan keimanan.

Artinya guru yang terpenting adalah guru yang bisa menyesuaikan dan senantiasa berupaya menjadi yang terbaik. Ada falsafah di Daar el-Qolam 3, “Berhenti belajar, berhentilah mengajar”. Ruh keikhlasan Ustadz jika bersatu dengan ruh keikhlasan santri maka akan menjadi sebuah kekuatan tersendiri. Ustadz menerangkan dengan penuh keikhlasan meskipun tidak cerdas maka itu lebih baik daripada anak cerdas yang tidak ikhlas mendengarkan gurunya mengajar. Maka, di MMI Daar el-Qolam ada pedoman at-ṭarîqatu ahammu min al-mâddati—metode lebih utama daripada materi—wa al-mudarrisu ahammu min at-ṭarîqati—dan seorang guru lebih utama daripada metode yang digunakan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa, rûh al-mudarris ahammu kulla ṡay’in—spirit guru itu lebih penting dari segalanya).

Comments

There are no comments for this post.