Okt 07
Membangun Budaya Literasi di Sekolah

Budaya literasi telah banyak diterapkan di sekolah-sekolah sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa, serta meningkatkan mutu pendidikan. Bahkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai pengembangan dari Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti pada Anak. Awal peluncuran GLS sendiri dilakukan secara simbolis dengan memberikan buku-buku paket bacaan yang didistribusikan di berbagai sekolah sebagai tonggak budaya literasi. Namun walaupun pemerintah telah meluncurkan gerakan tersebut, tetap saja guru dan pihak sekolah harus pandai dalam menyesuaikan dan merencanakan program budaya literasi di sekolah. Untuk menerapkan budaya literasi di sekolah diperlukan beberapa prinsip. Prinsip-prinsip yang ditekankan adalah sebagai berikut.

·         Perkembangan literasi berjalan sesuai tahap perkembangan yang bisa diprediksi

Tahap perkembangan anak dalam membaca dan menulis sifatnya saling beririsan antar tahap. Memahami tahap perkembangan literasi dapat membantu sekolah untuk memilih strategi pembiasaan dan pembelajaran literasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan perkembangan siswa.

IMG-20161114-WA0012.jpg

·         Program literasi yang baik bersifat berimbang

Sekolah yang menerapkan  program literasi berimbang menyadari bahwa setiap siswa memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Sehingga diperlukan berbagai strategi membaca dan jenis teks yang bervariasi pula.

·         Program literasi berlangsung di semua area kurikulum

Pembiasaan dan pembelajaran literasi di sekolah adalah tanggung jawab semua guru di semua mata pelajaran. Pembelajaran pada mata pelajaran apapun membutuhkan bahasa, terutama membaca dan menulis. Dengan demikian, pengembangan profesional guru dalam hal literasi perlu diberikan kepada guru semua mata pelajaran.

·         Tidak ada istilah terlalu banyak untuk membaca dan menulis yang bermakna

Kegiatan membaca dan menulis di kelas perlu dilakukan agar tercipta kondisi kelas yang kondusif dan menyenangkan. Untuk itu, perlu ditekankan bentuk kegiatan yang bermakna dan kontekstual. Misalnya, 'menulis surat untuk wali kota' atau 'membaca untuk ibu' adalah contoh-contoh kegiatan yang bermakna dan memberikan kesan kuat kepada siswa.

·         Diskusi dan strategi bahasa lisan sangat penting

Kelas berbasis literasi yang kuat akan melakukan berbagai kegiatan lisan berupa diskusi tentang buku selama pembelajaran di kelas. Kegiatan diskusi ini juga harus membuka kemungkinan untuk perbedaan pendapat agar kemampuan berpikir kritis dapat diasah. Siswa perlu belajar untuk menyampaikan argumentasinya, saling mendengarkan, dan menghormati perbedaan pandangan antar siswa.

IMG-20161114-WA0013.jpg

·         Keberagaman perlu dirayakan di kelas dan sekolah

Penting bagi pendidik untuk tidak hanya menerima perbedaan, namun juga merayakannya melalui budaya literasi di sekolah. Buku-buku yang disediakan untuk bahan bacaan siswa perlu merefleksikan kekayaan budaya Indonesia agar siswa dapat dikenalkan pada pengalaman multikultural sebanyak mungkin.

     Setelah berpegang pada prinsip-prinsip tersebut, selanjutnya adalah penerapan budaya literasi di sekolah. Banyak terdapat bentuk-bentuk penerapan budaya literasi di beberapa sekolah di Indonesia, seperti berikut ini.

·         Membudayakan literasi dengan program 6M

Untuk meningkatkan budaya literasi di sekolah, khususnya di kelas pada kalangan siswa, diperlukan suatu tindakan yang salah satunya melalui program 6M. Program 6M sendiri terdiri atas tindakan mengamati (observe), mencipta (create), mengomunikasikan (communicate), mengekspresikan (appreciate), membukukan (post), memamerkan (demonstrate). Pada program ini siswa dibiasakan untuk mengaktifkan siswa dalam mengembangkan keterampilan yang dimilikinya agar siswa lebih peka, peduli, kritis, kreatif, dan jujur. Program ini telah diterapkan di beberapa sekolah dasar di Indonesia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Aulia Akbar, budaya literasi yang diterapkan melalui program 6M di sekolah, khususnya sekolah dasar, siswa dapat lebih membiasakan diri dalam mencari informasi-informasi yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Semakin besar siswa sadar akan pentingnya budaya literasi, maka semakin besar peluang siswa untuk mampu bersaing di era modern.

·         Membudayakan literasi dengan model BATU-BASAH

Kegiatan batu-basah (baca tulis-baca sampaikan hasilnya) dilatarbelakangi oleh rendahnya minat baca siswa di sekolah. Disamping itu, siswa juga mengalami kesulitan untuk menyampaikan hasil bacaannya dalam bentuk lisan dan tulisan, sekolah juga kesulitan dalam mengelola kegiatan literasi di sekolah karena belum semua warga sekolah berpartisipasi dalam pembudayaan literasi. Dalam model batu-basah yang merupakan akronim dari proses reseptif menjadi produktif yaitu baca tuliskan, baca sampaikan hasilnya. Model ini dilaksanakan dalam bentuk pelatihan dan pengelolaan kegiatan membaca kepada pengelola perpustakaan dan semua guru di lokasi mitra sebagai bagian penting dalam mengembangkan budaya literasi. Selain itu beberapa siswa juga turut dilatih tentang tips membaca efektif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mandra Saragih dan Habib Syukri Nasution yang dilakukan di SMP Negeri 13 dan 14 Binjai, terjadi peningkatan minat baca siswa dan menurunnya tingkat kesulitan siswa dalam menyampaikan hasil bacaan. Ditambah lagi pihak sekolah sudah mulai tersistem dalam mengelola kegiatan literasi di sekolah sehingga semua warga sekolah berpartisipasi dalam kegiatan ini, dan sudah memiliki format untuk menyampaikan hasil bacaan baik dalam bentuk lisan dan tulisan.

·         Membudayakan literasi dengan pendekatan proses

Salah satu cara untuk mengembangkan budaya literasi dengan pembelajaran membaca dengan menggunakan pendekatan proses. Kegiatan membaca dapat diajarkan kepada anak dengan pendekatan proses yang meliputi beberapa tahapan membaca, yaitu tahapan persiapan membaca, kegiatan membaca, tahap merespon, tahap mengeksplor bacaan dan tahapan memperdalam interpretasi. Dengan pembelajaran membaca dengan pendekatan proses, kemampuan membaca siswa sekolah dasar akan meningkat dan budaya literasi terbangun baik pada anak sejak usia dini. Pendekatan proses ini juga telah diterapkan di beberapa sekolah di Indonesia
 

Ayo.. kita laksanakan di sekolah kita.

Sep 30
Santri Pondok Pesantren Daar el Qolam 2 di Kompetisi Roket Air PP-IPTEK 2018

Pusat Peragaan Iptek (PP-IPTEK), Kemenristekdikti akan menyelenggarakan Kompetisi Roket Air Regional (KRAR) Jabodetabek pada tanggal 25 - 26 Agustus 2018 di PP-IPTEK, Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kegiatan ini juga diikuti oleh santri dari Pondok Pesantren Daar el Qolam 2.

roket air.jpg

Kompetisi Roket Air merupakan kegiatan sains interaktif untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam bidang teknologi keantariksaan dan kedirgantaraan, di mana roket air digunakan sebagai alat bantunya. Kompetisi roket air ini dapat diikuti oleh pelajar siswa SMP atau SMU yang berusia 12-16 tahun. Dalam kompetisi ini, peserta akan adu keterampilan dalam mendesain dan meluncurkan roket air berdasarkan zona sasaran yang sudah ditentukan oleh penyelenggara kompetisi di tingkat internasional.

Pemenang KRAR berhak mengikuti Kompetisi Roket Air Nasional (KRAN) yang akan diselenggarakan pada tanggal 28 September - 1 Oktober 2018 di PP-IPTEK. 6 (enam) pemenang KRAN terbaik berkesempatan mewakili Indonesia dalam kompetisi roket air internasional, Water Rocket Event - 25th Asia Pacific Regional Space Agency Forum (WRE - APRSAF-25) yang tahun ini akan diselenggarakan di Singapura pada bulan November 2018.

Sep 29
Program Akreditasi Sekolah

Setiap tahun, sekolah/madrasah (S/M) mulai dari jenjang SD/MI, SMP/Mts, sampai pada jenjang SMA /MA, serta SMK di seluruh Indonesia berjuang mempersiapkan penilaian akreditasi. Akreditasi merupakan bagian dari Sistem Penjaminan Mutu Eksternal Pendidikan Dasar dan Menengah seperti yang tercantum dalam Permendikbud Nomor 28 Tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar Dan Menengah. Dari kacamata pemerintah, sekolah dinyatakan layak dan bermutu apabila memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang meliputi Standar Isi, Standar Proses, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Pengelolaan, Standar Pendidik dan Kependidikan, Standar Sarana Prasarana, Standar Pembiayaan, dan Standar Penilaian. Untuk mempersiapkan visitasi akreditasi S/M perlu memahami tentang prosedur akreditasi, pemeringkatan hasil akreditasi, sekaligus menentukan langkah strategis untuk mencapai sukses akreditasi.

Badan-Akreditasi-Nasional-Sekolah-dan-Madrasah.jpg

A. Empat Pilar Akreditasi

Akreditasi S/M diselenggarakan oleh Badan Akreditasi Nasional Sekolah dan Madrasah (BAN-S/M) dibantu oleh Badan Akreditasi Propinsi Sekolah dan Madrasah (BAP-S/M) yang didasarkan pada empat pilar. Pertama, perangkat yang bermutu. BAN-S/M berusaha menyempurnakan Perangkat Akreditasi sebagai alat penilaian mutu pendidikan yang valid dan realiable dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan dan Peraturan-peraturan yang terkait. Perangkat yang bermutu terdiri atas Instrumen, Petunjuk Teknis, Data dan Informasi Pendukung serta Teknik Penskoran. Perangkat Akreditasi disusun dengan bahasa yang mudah dan sederhana sehingga tidak menimbulkan salah pengertian dan perbedaan pendapat antara S/M dengan asesor. Perangkat disusun dengan lebih sederhana sehingga memudahkan S/M dalam mempersiapkan akreditasi dan pada saat visitasi. Perangkat Akreditasi dapat diakses melalui website BAN-S/M, Dinas Pendidikan, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) RI, dan media lainnya sehingga dapat dipelajari.

 

Pilar kedua adalah asesor yang bermutu. Dalam rangka meningkatkan profesionalisme dan keterbukaan, BAN-S/M mensyaratkan usia asesor 35-60 tahun, pendidikan sekurang-kurangnya S1, memiliki pengalaman kerja dan latar belakang pendidikan yang relevan, dan mahir komputer. Bagi asesor dari profesi guru harus berasal dari S/M yang terakreditasi. Asesor juga harus memiliki kecakapan sosial dan berkepribadian luhur. Asesor yang tidak mematuhi kode etik dapat diberhentikan. Rekrutmen asesor dilaksanakan secara terbuka melalui pengumuman di media massa atau pemberitahuan ke lembaga terkait. Setiap orang yang melamar sebagai asesor harus mengikuti tes tulis, wawancara, penilaian portofolio, dan pelatihan calon asesor. Asesor bukanlah mereka yang ditunjuk tetapi kalangan profesional yang diseleksi dengan ketat. Asesor adalah salah satu pelaku utama Akreditasi yang berhubungan langsung dengan masyarakat sehingga kepribadian mereka menentukan citra BAN-S/M dan hal-hal lain yang terkait dengan akreditasi.

 

Pilar ketiga adalah manajemen yang bermutu. BAN-S/M berusaha memperbaiki sistem manajemen baik yang terkait dengan perencanaan, pelaksanaan kegiatan. monitoring dan evaluasi. Proses penetapan kuota dan S/M diperbaiki sehingga lebih cepat, adil, dan objektif. Usaha penyempurnaan manajemen dapat dilihat dari perubahan prosedur operasional standar (POS). Melalui POS pihak-pihak yang terkait dengan Akreditasi khususnya BAP-S/M dan Kepala S/M dapat melaksanakan kegiatan dengan benar. Termasuk ke dalam pilar ketiga adalah pertanggungjawaban keuangan yang benar, kinerja, dan komunikasi yang semakin baik.

 

Pilar keempat adalah hasil-hasil yang bermutu. BAN-S/M mulai mengembangkan sistem database yang memuat hasil dan peringkat Akreditasi. Hasil-hasil Akreditasi terintegrasi dengan data pokok pendidikan, dan memuat data tentang keadaan S/M sehingga menjadi dasar dalam pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan. BAN-S/M mencatat beberapa Daerah mulai menjadikan hasil Akreditasi sebagai bagian dari program peningkatan mutu pendidikan. BAN-S/M senantiasa memberikan data-data yang lengkap dan mutakhir (available), mudah diakses (accessable), dan bermanfaat (beneficial). Berbagai pihak dapat mengolah dan memanfaatkan hasil Akreditasi untuk kepentingan studi, pemetaan mutu pendidikan, dan perencanaan pembangunan.

Sep 26
Kegiatan Supervisi Guru Pondok Pesantren Daar el Qolam 2 (Semester 1 tahun ajaran 2018-2019)

Pondok pesantren Daar el-Qolam senantiasa berkomitmen untuk meningkatkan kualitas hasil belajar dan lulusan santrinya (siswanya). Berkaitan dengan hal tersebut, Peningkatan kompetensi ini perlu terus dijaga agar kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya dapat terlaksana dengan baik.

Usaha yang dilakukan adalah dengan diadakannya Supervisi kompetensi guru Pondok Pesantren Daar el-Qolam 2. Supervisi Kompetensi Guru Pondok Pesantren Daar el-qolam 2 ini diikuti oleh seluruh Guru/pengaajar. Kegiatan dilaksanakan setiap bulan satu kali untuk setiap guru dalam satu semester pembelajaran.

Peran guru sangat penting dalam proses belajar mengajar, serta dalam memajukan dunia pendidikan. Kualitas siswa dan anak didik dan dunia pendidikan sangat bergantung pada mutu guru. Karena itu, guru harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar nasional pendidikan agar dapat menjalankan tugas dan perannya dengan standar kompetensi yang baik. Evaluasi proses pembelajaran terhadap guru pun sangat penting untuk dapat meningkatkan profesionalitas guru dalam mendidik dan mengajar agar menjadi guru yang terbaik.

Sep 19
Belajar Pewarisan Sifat menggunakan Menggunakan Kancing Genetika

 

Salah  satu  pendekatan  pembelajaran  yang  sejalan  dengan  hakikat konstruktivisme  adalah  pembelajaran  berbasis  praktikum.  Pada  pembelajaran berbasis  praktikum,  belajar  lebih  diarahkan  pada  experimental  learning berdasarkan  pengalaman  konkrit,  diskusi  dengan  teman  yang  selanjutnya  akan diperoleh  ide  dan  konsep  baru.  Belajar  dipandang  sebagai  proses  penyusunan pengetahuan  dari  pengalaman  konkrit,  aktivitas  kolaboratif  dan  refleksi  serta interpretasi.  Oleh karena itu,  pembelajaran berbasis  praktikum  dapat  digunakan sebagai  alternatif pembelajaran  yang dapat  mendorong  siswa belajar aktif  untuk merekonstruksi kembali pemahaman konseptualnya (Gasong, 2006).


Tujuan Praktikum adalah untuk mengidentifikasi hasil persilangan model gen (dengan menggunakan kancing genetika), Membuktikan perbandingan Mendel pada F2 persilangan monohibrid dominan, yaitu perbandingan genotip 1 : 2 : 1 dan perbandingan fenotip 3 : 1, dan persilangan intermediate yaitu perbandingan genotip 1 : 2 : 1 dan perbandingan fenotip 1 : 2 : 1. Selain itu juga untuk Membuktikan perbandingan Mendel pada F2 persilangan dihibrida, yaitu perbandingan fenotip 9:3:3:1

Alat yang digunakan  yaitu alat tulis dan lembar lembar pengamatan sedangkan  Bahan yang digunanakan adalah 1 kotak kancing Genetika 5 warna  8 gelas kimia 500 ml/ dapat di ganti tempat yang lain.

Kegiatan praktikum ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Daar el Qolam 2 pada kelas 9 SMP Pelajaran IPA Terpadu, materi pewarisan sifat.

1 - 5Next