Okt 30
Kajian Islam Di Eropa Bersama Dr.Phill, Suratno MA

KAMPUS DZA IZZA -​ Jum'at 28 Oktober 2016, Daar El-Qolam Kembali mengundang salah satu dosen besar sekaligus rektor dari Paramadina University, Yang merupakan Salah satu universitas swasta di Jakarta Selatan beliau adalah Dr.Phill Suratno MA , Kedatangannya disambut hangat oleh Al-Ustadz Aan Rukmana, Tujuan diadakannya Kajian Islam di eropa antara lain Memaparkan betaapa pesatnya perkembangan agama islam di Eropa, dengan banyaknya pengalaman Yang beliau miliki saat menuntut ilmu di Negara German beliau memberikan Pengarahan bahwasannya Disiplin waktu alias On time adalah salah satu pengaruh paling besar dalam kehidupan di negara German tidak hanya itu beliau juga memaparkan tenatang toleransi beragama yang begitu kuat serta adat dan madzhab yang berlaku disana, Karena German saat ini merupakan negara eropa dengan jumlah muslim terbanyak Mengalahkan Prancis.

Disela-sela Wawancara kami Beliau Megutarakan maksudnya datang ke Daar El-Qolam Bahwasanya Kedatangannya semata guna memberikan pengarahan terhadap santriwan & santriwati tentang Pendidikan di luar sana. Beliau juga berpesan terhadap Santri Daar El-Qolam untuk Selalu Visioner dalam Segala hal Yaitu Untuk Selalu Berpikir Panjang dengan cara Bekerja Keras Dan Harus ulet dalam hal pekerjaan. Harapannya adalah agar Santriwan & santriwati dapat Menempuh Pendidikan tinggi Di Jerman.

Okt 29
Hari Santri Nasional

​Santri Merupakan Elemen Terpenting dalam dunia pendidikan diindonesia oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk memperingati Hari Santri Nasional, Berikut Tiga Alasan Dasar Mengapa diadakannya Hari santri Nasional :

Tiga Alasan Dasar

Gus Rozien menambahkan, ada tiga argumentasi utama yang menjadikan Hari Santri Nasional sebagai sesuatu yang strategis bagi negara. “Pertama, Hari Santri Nasional pada 22 Oktober, menjadi ingatan sejarah tentang Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari. Ini peristiwa penting yang menggerakkan santri, pemuda dan masyarakat untuk bergerak bersama, berjuang melawan pasukan kolonial, yang puncaknya pada 10 Nopember 1945,” ungkap Gus Rozien.

Kedua, lanjutnya, jaringan santri telah terbukti konsisten menjaga perdamaian dan keseimbangan. Perjuangan para kiai jelas menjadi catatan sejarah yang strategis, bahkan sejak kesepakatan tentang darul islam (daerah Islam) pada pertemuan para kiai di Banjarmasin, 1936.

“Sepuluh tahun berdirinya NU dan sembilan tahun sebelum kemerdekaan, kiai-santri sudah sadar pentingnya konsep negara yang memberi ruang bagi berbagai macam kelompok agar dapat hidup bersama. Ini konsep yang luar biasa,” tegas Gus Rozien.

Rumusan ketiga, ungkap Gus Rozien, yakni kelompok santri dan kiai-kiai terbukti mengawal kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Para kiai dan santri selaluh berada di garda depan untuk mengawal NKRI, memperjuangan Pancasila. Pada Muktamar NU di Situbondo, 1984, jelas sekali tentang rumusan Pancasila sebagai dasar negara. Bahwa NKRI sebagai bentuk final, harga mati yang tidak bisa dikompromikan,” jelas Gus Rozien.

Dengan demikian, Gus Rozien menambahkan, Hari Santri bukan lagi sebagai usulan ataupun permintaan dari kelompok pesantren. “Ini wujud dari hak negara dan pemimpin bangsa, memberikan penghormatan kepada sejarah pesantren, sejarah perjuangan para kiai dan santri. Kontribusi pesantren kepada negara ini, sudah tidak terhitung lagi,” tegas Rozien.

Sementara, adanya kritik terhadap rencana penetapan Hari Santri Nasional, menurut Gus Rozien merupakan hal yang wajar. “Itu merupakan hak bagi setiap individu maupun kelompok untuk memberikan kritik. Kami merespon dengan baik dan santun. Akan tetapi, jelas argumentasi epistemiknya lemah jika menggunakan teori Gertz, yang sudah dikritik sendiri oleh kolega-koleganya, semisal Talal Asad, Andrew Beatty, Mark R Woodward, dan beberapa peneliti lain. Selain itu, kelompok abangan juga sudah banyak yang melebur menjadi santri,” terang Rozien.

Diambil dari : https://www.harisantri.id/berita/tiga-alasan-mengapa-presiden-mesti-tetapkan-hari-santri.html (dengan perubahan seperlunya)

Okt 29
Spirit Sumpah Pemuda

sumpah pmuda.png28 Oktober kita peringati sebagai hari Sumpah Pemuda. Belum lama berselang kita juga memperingati hari santri tepatnya pada tanggal 22 Oktober.

Apa kesamaan makna dari keduanya? Keduanya berbicara tentang sejarah kaum muda yang melampaui zamannya, kaum muda yang memiliki kesadaran (conscience ) tentang nasib bangsanya lalu memilih untuk mengambil bagian dan peran untuk masa depan yang lebih baik. Inilah pelajaran terbaik genarasi yang dapat kita petik dari hari sumpah pemuda dan hari santri.

Berkaca pada sejarah peran kaum muda inilah (bisa jadi) yang melandasi pernyataan Bung Karno yang sangat kita kenal: “Beri aku sepuluh pemuda, maka aku akan mengguncang dunia!” Di tengah arus perubahan dunia yang begitu cepat dan masif merasuk ke dalam ruangruang negara terkadang hidup menjadi serba instan dan melunturkan apa yang disebut sebagai kesadaran kolektif, bahkan mengikis apa yang disebut sebagai kepentingan bersama (national interest).

Ikatan kebangsaan kita menjadi rapuh, sendi-sendi negara yang seharusnya dipedomani menjadi kehilangan elan vitalnya, nasionalisme menjadi slogan yang kering makna karena berjarak dengan realitas sehari-hari. Jika sudah demikian, melakukan refleksi terhadap sejarah menjadi jalan terbaik agar kita tidak semakin larut dalam kemunduran dalam berbangsa dan bernegara, dan sejarah sumpah pemuda (juga hari santri) teramat sayang untuk dilewatkan.

Kilas Sejarah Sumpah Pemuda

Sejarah sumpah pemuda adalah sejarah tentang nasionalisme Indonesia. Ia menjadi penanda kuat kesadaran tentang nation jauh sebelum Indonesia merdeka. Kaum muda dari berbagai daerah berkumpul lalu menyatakan ikrar setia, untuk sebuah masa depan yang diimajinasikan bersama. Ia menjadi tonggak sejarah kemerdekaan Indonesia.

Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Ikrarnya begitu sarat makna, pun pilihan kalimat begitu bernas sesuai ukuran dan kebutuhan zamannya. Sumpah pemuda sendiri sejatinya adalah keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta).

Keputusan ini menegaskan cita-cita lahirnya “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, dan “bahasa Indonesia”. Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap perkumpulan kebangsaan Indonesia dan agar disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulanperkumpulan.

Istilah “Sumpah Pemuda” sendiri tidak muncul dalam putusan kongres tersebut, melainkan diberikan setelahnya.Bunyi ikrar sumpah pemuda yang asli terpahat pada prasasti di dinding Museum Sumpah Pemuda. Penulisannya sendiri menggunakan ejaan van Ophuysen.

“Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.”

Rumusan Kongres Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo selaku ketua Panitia Kongres ketika Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres (sebagai utusan kepanduan) sambil berbisik kepada Soegondo: Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini).

Soegondo menyatakan setuju dan membubuhi paraf setuju pada secarik kertas tersebut, kemudian diteruskan kepada yang lain untuk paraf setuju juga. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin. Kongres sendiri dihadiri oleh 71 pemuda dari berbagai daerah dan latar belakang organisasi di nusantara. 


Dan, bahasa persatuan yang disepakati saat itu adalah bahasa Indonesia, bukan bahasa jawa atau bahasa sunda atau bahasa daerah lainnya. Hal ini menegaskan kesadaran akan keindonesiaan yang majemuk atau ber-bhinneka. Menjadi Indonesia tidak berarti harus kehilangan kejawaannya, kebetawiannya, kesundaanya atau kebatakannya tapi itu semua menjadi warna bagi keindonesiaan.

Spirit Sumpah Pemuda

Penulis pribadi mencatat sekurangnya empat pelajaran penting dari momentum sumpah pemuda 1928. Pelajaran itu sangat berharga untuk terus dikaji dan ditanamkan kepada generasi bangsa dalam rangka menghadapi tantangan maupun ancaman kebangsaan yang nyata di hadapan.

Pertama, sumpah pemuda adalah pelajaran tentang spirit kepeloporan pemuda dalam membangun konsensus kebangsaan.

Konsensus yang melahirkan persatuan dan kesatuan Indonesia. Pemuda dari berbagai daerah dengan latar belakang yang berbeda-beda bersatu untuk masa depan Indonesia. Semangat persatuan ini yang harus kita teladani harihari ini. Ikrar sumpah pemuda memberikan alasan kuat untuk menjaga kemajemukan atas dasar penghormatan (respect ) bukan penyeragaman.

Ada banyak alasan bangsa ini untuk berpecah belah dalam perbedaan yang ada, tapi para pemuda memilih untuk bersatu dalam sebuah nation bernama Indonesia. Maka persatuan adalah marwah bangsa ini dan setiap upaya untuk memecah-belah persatuan, menistakan perbedaan, tidak menghargai keberagaman adalah ancaman nyata bagi kebangsaan kita.

Kedua, sumpah pemuda adalah bentuk tekad pemuda untuk membangun apa yang disebut sebagai karakter dan identitas kolektif sebagai bangsa.

Kalimat sumpah pemuda yang menyatakan untuk bertumpah darah satu, berbahasa persatuan, dan berbangsa satu adalah wujud kesadaran kolektif untuk menjaga apa yang menjadi identitas bersama. Negara-negara di dunia saat ini banyak yang mengalami krisis identitas.

Bahkan, ia menjadi penyebab utama gagalnya sebuah negara (failed state ) karena kehilangan akarnya sebagai bangsa. Maka, tugas kebangsaan kita adalah sekuat tenaga menjaga nasionalisme Indonesia dan menjadikannya relevan sepanjang masa. Nasionalisme ini harus merasuk di hati dan pikiran seluruh pemuda dan rakyat Indonesia.

Pun, nasionalisme ini harus tercermin nyata dalam kebijakan negara dan pemerintah dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Nasionalisme dalam bidang ekonomi tercermin dari kehendak kuat dan kebijakan negara dalam menjaga sumber-sumber kekayaan negara dari tangan-tangan aing dan kapitalime global, mendorong kemandirian, dan keberpihakan pada produk dalam negeri, serta pembatasan impor (bukan malah membuka keran impor seluasnya).

Kemandirian dalam bidang pangan tercermin dalam upaya serius pemerintah mewujudkan ketahanan pangan, swasembada pangan, keberpihakan nyata pada petani, dan proteksi produk pertanian dalam negeri. Nasionalisme dalam budaya harusterlihat nyatadari masifnya kebijakan negara yang mempromosikan identitas bangsa yang berketuhanan, berakhlak mulia, termasuk dalam pergaulan muda-mudi.

Paham liberalisme dan individualisme dalam budaya bangsa harus diwaspadai serius sebagai ancaman identitas kebangsaan kita. Demikian halnya dalam bidang bahasa, kebanggaan kita berbahasa Indonesia yang baik dan benar, mengutamakan penggunaan kosa kata bahasa Indonesia, mengembangkan serapan bahasa asli Indonesia harus terus ditumbuhkan vis-a-vis kecenderungan kuat penggunaan (serapan) bahasa asing yang makin marak.

Ketiga, Sumpah Pemuda 1928 membuka jalan bagi kemerdekaan Indonesia dalam membangun fondasi Negara bangsa.

Ia seolah menegaskan bahwa tidak ada hasil perjuangan yang instan. Kemerdekaan adalah buah dari perjuangan panjang, dan Sumpah Pemuda adalah salah satu tahap pentingnya. Merawat karakter dan identitas bangsa juga butuh perjuangan panjang agar bangsa ini tetap eksis di tengah tantangan dan ancaman global.

Keempat , sumpah pemuda harus menjadi alasan kuat bagi segenap elemen bangsa, negara, dan pemerintah untuk memberikan ruang aktualisasi kaum muda agar berkreasi dan menginspirasi negeri.

Tidak hanya sumpah pemuda, hampir semua momentum penting negeri ini terutama menyangkut reformasi nasional selalu melibatkan peran pemuda di dalamnya bahkan perannya sebagai penggerak utama perubahan. Selamat Hari Sumpah Pemuda untuk seluruh pemuda Indonesia. 

 artikel diambil dari  : http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=2&date=2016-10-28  (Dengan perubahan seperlunya) 

Okt 23
TANSIBULMUDABBIRWALMUDABBIROT

ad.jpgGINTUNG – “Mau di pimpin dan siap memimpin”. Beitulah asas pendirian dari santri pondok pesantren Daar El-Qolam, Karena bukan hanya di pimpin untuk menjadi seseorang yang baik budi luhurnya tetapi juga dituntut untuk dapat memberikan uswah yang baik sebagai seorang pemimpin.
Kamis, 13 oktober 2016, sebuah amanat besar diberikan oleh Bapak Pemimpin Pondok Pesantren Daar El-Qolam 2 Al-Ustadz Drs.KH. Odhy Rosikhuddin M,pd. Untuk memimpin sebuah aspek tertinggi dalam Organisasi ISMI (IKATAN SANTRI MUALLIMIEN AL-ISLAMIYAH). Ismi Merupakan sebuah wadah kepemimpinan bagi santriwan dan santriwati pondok pesantren Daar El-Qolam, dalam hal ini Pengurus ISMI Diwajibkan untuk mengatur segala aspek kehidupan santri Pondok Pesantren Daar El-Qolam Selama 24 Jam didalam asrama.

IMG_6765.JPG
 Pelantikan pengurus ISMI Glinz Generation dilaksanakan pada pagi hari dengan memakai Jas Almamater Biru sebagai Jas perubahan dari warna hijau ke warna biru. Kepengurusan ISMI masa bakti 2016-2017 Glinz Generation Dipimpin Oleh M.Ilham Lazuardi Hanif Sebagai Ketua ISMI Putra Dan Zannuba Nasywa Maula Sebagai Ketua ISMI Putri. Dalam Sela-sela Pidato Pemimpin Pondok Pesantren  Daar El-Qolam menuturkan bahwa “Pergantian pengurus merupakan sebuah program untuk menjaga kestabilitasan disiplin di Pondok Pesantren Daar-El-Qolam 2.” Begitu tuturnya. \

IMG_6781.JPG
Pidato Ketua ISMI Berisi tentang Bagaimana pengurus menyikapi kepengurusan dengan baik, Serta jadilah pengurus yang ditaati bukan ditakuti. Dan Saling mengingtakan dalam kebaikan seperti yang tertera dalam surat Al-Asr Ayat 1-3.
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).
 
Harapannya adalah Semoga dengan kepngurusan yang baru dapat lebih mengharumkan nama Daar El-Qolam dalam Disiplin Asrama dan Disiplin Berbahasa.
 

Okt 22
NAO

images.png

 Daar El-Qolam 2 kembali menunjukkan kemampuannya, santri tidak hanya diajarkan untuk bisa mengaji dan menghafal Al-Qur’an tetapi juga diajarkan untuk bersaing. Tidak tanggung-tanggung 15 oktober 2016 lalu Daar El-Qolam 2 turut berpartisipasi dalam perlombaan kanca nasional. NATIONAL ACCOUNTING OLYMPIAD/


 Lomba yang diselanggarakan di Universitas Negeri Malang ini dihadiri oleh para peserta dari seluruh nusantara. Tiap-Tiap sekolah mengirim utusannya masing-masing, Daar El-Qolam 2 sendiri mengutus 6 orang utusan yang dibagi menjadi 3 TIM Utama.
• TIM 1 (Rahmatan Lil-alamien) : Zaki Adhy Putra
                                                  Fauzan Mirwan
• TIM 2 (Darqo)     :  Alie Ilham
                                M.Fadhillah Djunaidi
• TIM 3 (PL)     :  Indah Faturrahman Alhaq
                          Naeli Amania
 Mereka-merekalah yang berjuang mengharumkan nama pondok pesantren Daar El-Qolam, adapun lomba yang diikutkan meliputi “Accounting Cycle” atau “Siklus Akuntansi” yang berdurasi 1,5 Jam Kemudian “Puzzle Cash” Seperti Halnya Lomba Cerdas Cermat


 Daar El-Qolam 2 Berhasil memasuki semifinal setelah harus kandas di babak tersebut. Berikut Prestasi Yang diraih :
 TIM 1 : Juara 6 dan Harapan 3
 TIM 2 : Hanya bisa menempati posisi Ke-14
 TIM 3 : Menempati Posisi Ke-18

 Daar El-Qolam 2 Berhasil Meraih 20 Besar Peringkat dari seluruh Indonesia dan menjadi sekolah pertama yang mengikuti lomba tersebut dengan capaian peringkat 20 Besar.

1 - 5Next